Hubungan Raja Gowa dan Portugis – Hubungan Raja Gowa dan Portugis
Sultan Hasanuddin, pahlawan nasional dari Kerajaan Gowa–Tallo, dikenal sebagai salah satu tokoh paling gigih dalam menentang dominasi Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Meski berjuang keras, kekalahan akhirnya memaksa Gowa menandatangani Perjanjian Bongaya pada 1667, sebuah kesepakatan yang mengakhiri perlawanan slot depo 10k panjang kerajaan tersebut terhadap Belanda.
Portugis: Sekutu Penting Kerajaan Gowa
Sebelum VOC slot kamboja berkuasa di Nusantara bagian timur, Portugis telah lebih dulu hadir di Makassar dan menjalin hubungan baik dengan penguasa setempat. Kedekatan ini membuat beberapa raja Gowa memberi ruang bagi misionaris Portugis untuk menyebarkan agama Katolik. Bahkan, sebuah sekolah Katolik sempat berdiri di Makassar pada masa itu.
Christian Pelras dalam Manusia Bugis mencatat bahwa salah satu raja Gowa pernah memeluk agama Kristen, meski kemudian para penguasa di kawasan Bugis dan Makassar kembali memilih Islam sebagai agama resmi kerajaan.
Portugis Lebih Fokus pada Perdagangan
Kehadiran Portugis di Makassar tidak bertujuan menguasai wilayah, melainkan mengembangkan perdagangan. Mereka menjalin hubungan erat dengan bangsawan Tallo, termasuk Karaeng Pattinggaloang, sosok yang di kenal tertarik pada pengetahuan Barat. Ia mengoleksi berbagai benda ilmiah seperti peta dan globe, yang di dapatkannya dari pedagang Portugis dan Eropa lainnya. Pattinggaloang juga menguasai beberapa bahasa Eropa, yang memperlancar interaksi budaya di Makassar pada masa itu.
Pengaruh Militer Portugis: Kapal Ghalī untuk Sekutu
Sebelum mencapai Makassar, Portugis terlebih dahulu memperkuat kekuasaan mereka di Malaka. Di wild bounty show kawasan tersebut, mereka mengembangkan kapal-kapal perang bergaya Mediterania, di kenal sebagai ghali atau galleon, yang di gerakkan oleh kombinasi layar dan dayung.
Dalam tulisannya, Pierre-Yves Manguin menjelaskan bahwa Portugis membangun ghali tidak hanya untuk di gunakan sendiri, tetapi juga sebagai bantuan bagi sekutu-sekutunya di Asia Tenggara. Di Sulawesi Selatan, Portugis berperan besar membangun kekuatan maritim Gowa.
Mukhlis Paeni mencatat bahwa pada 1620-an, Portugis membantu Gowa dengan:
- pembangunan puluhan kapal ghali,
- suplai persenjataan,
- serta pengiriman instruktur untuk memperkuat armada perang laut Gowa.
Bantuan ini di berikan karena Portugis membutuhkan sekutu kuat untuk menghadapi pesaing mereka, yaitu VOC, yang sama-sama mengincar dominasi perdagangan rempah di Maluku Utara.
Gowa Menguat, Bone Menjadi Musuh
Dengan dukungan militer dari Portugis, kekuatan Gowa meningkat pesat pada awal abad ke-17. Gowa bahkan berhasil bonus new member 100menundukkan kerajaan-kerajaan Bugis lain seperti Bone. Namun, penaklukan itu menimbulkan dendam politik yang panjang. Tokoh Bone yang paling terkenal, Arung Palakka, kemudian memihak Belanda dan menjalin aliansi kuat dengan VOC.
Kerja sama Arung Palakka dengan VOC menjadi titik balik penting. Dengan kekuatan gabungan tersebut, Belanda akhirnya mampu mengalahkan Gowa dan menguasai pelabuhan Makassar—sebuah pusat perdagangan besar yang sebelumnya berkembang pesat berkat hubungan baik dengan Portugis.
Dampak Politik Agama di Sulawesi Selatan
Kehadiran Belanda yang memeluk Protestan juga membawa pengaruh terhadap perkembangan agama di Sulawesi Selatan. VOC secara terbuka mencurigai Katolik—agama yang identik dengan Portugis—sehingga memberikan tekanan terhadap para penganutnya. Sebaliknya, VOC lebih membiarkan ajaran Protestan berkembang. Hal ini membuat agama Protestan lebih cepat menyebar di bandingkan Katolik sebelum abad ke-19.