situs judi bola online

Penetapan Tan Malaka sebagai Bapak Republik Indonesia

Penetapan Tan Malaka sebagai Bapak Republik Indonesia

Usulan Penetapan Tan Malaka sebagai Bapak Republik Indonesia – Usulan Penetapan Tan Malaka sebagai Bapak Republik Indonesia

Tan Malaka menjadi tokoh pertama yang merumuskan konsep negara Indonesia merdeka melalui risalah Naar de Republik Indonesia. Kini, sejumlah sejarawan mendorong pemerintah agar secara resmi menetapkan Tan Malaka sebagai Bapak Republik Indonesia.

Tan Malaka: Pemikir Revolusioner yang Mendahului Zaman

Dalam athena168 wacana sejarah Indonesia, nama Sukarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Tan Malaka sering di sebut sebagai empat tokoh penting dalam proses kelahiran Republik. Namun, pada saat ketiganya masih menempuh pendidikan formal—Sukarno di THS Bandung, Hatta di Rotterdam, dan Sjahrir bahkan belum lulus MULO—Tan Malaka telah lebih dahulu menuliskan gagasan besar mengenai bentuk negara Indonesia yang merdeka.

Pada April 1925, dalam masa pelariannya di Kanton, Tiongkok, Tan Malaka menyusun risalah Naar de Republik Indonesia (Menuju Republik Indonesia). Karyanya itu kemudian ia sempurnakan di Tokyo pada Desember tahun yang sama. Walau kontribusinya begitu fundamental, gelar resmi Bapak Republik Indonesia belum pernah di sematkan negara kepadanya hingga hari ini.

Pemikiran Visioner dalam Menuju Republik Indonesia

Sejarawan Asvi Warman Adam menjelaskan bahwa Tan Malaka adalah sosok yang menggagas konsep Republik Indonesia jauh sebelum proklamasi 1945. Dalam diskusi “100 Tahun Naar de Republik Indonesia” yang digelar di Perpustakaan Nasdem (21 November 2025), Asvi menyebutkan bahwa tulisan Tan Malaka menjadi inspirasi bagi para pemimpin nasional lainnya, termasuk Sukarno.

Dalam manifesto politik tersebut, Tan Malaka menegaskan bahwa kemerdekaan tidak akan datang sebagai pemberian, tetapi harus di perjuangkan melalui kesadaran kolektif, pemahaman terhadap kolonialisme, serta pengorganisasian rakyat. Melalui pengantar bukunya, ia menulis harapan agar pemikirannya dapat menjangkau kaum terpelajar Indonesia sebagai jembatan perubahan.

Jejak Panjang Perjuangan dan Mobilitas Global

Berbeda dengan banyak tokoh Indonesia lain pada masanya, Tan Malaka memiliki mobilitas internasional yang sangat luas. Asvi mencatat bahwa antara 1925 hingga 1945, Tan Malaka berpindah-pindah dari Amsterdam, Moskow, Berlin, berbagai kota di Tiongkok, hingga Manila, Hong Kong, Saigon, Bangkok, dan Rangoon. Mobilitas ini lebih banyak ia lakukan sebagai pelarian yang di kejar aparat kolonial Belanda dan Inggris.

Pada 1942, Tan Malaka kembali ke Indonesia. Sukarno sendiri menghormati kapasitas intelektualnya hingga menuliskan testamen politik pada September 1945. Testamen itu menyatakan bahwa bila Sukarno dan Hatta terhalang menjalankan mandat negara, maka kepemimpinan nasional dapat diteruskan oleh Tan Malaka. Setelah berdiskusi dengan Hatta, daftar penerima amanah itu kemudian di tambahkan Sjahrir, Wongsonegoro, dan Iwa Kusumasumantri sebagai jalan tengah.

Akhir Tragis Sang Revolusioner

Usai membangun gerakan Persatuan Perjuangan dengan semboyan spaceman slot “Merdeka 100 Persen”, perjalanan Tan Malaka berakhir tragis. Ia sempat di tahan setelah di kaitkan dengan peristiwa Kudeta 3 Juli 1946, namun mendapat amnesti pada 1948. Setahun kemudian, 21 Februari 1949, Tan Malaka di eksekusi oleh Batalyon Sikatan Divisi Brawijaya di Selopanggung, Kediri.

Pada 1963, Presiden Sukarno menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional bersama Alimin. Tokoh hukum Mohammad Yamin bahkan lebih dahulu menyuarakan gelar Bapak Republik Indonesia bagi Tan Malaka dalam bukunya Tan Malaka: Bapak Republik Indonesia (1946). Sayangnya, di masa Orde Baru, namanya sempat di singkirkan dari narasi sejarah resmi.

Asvi menegaskan pentingnya negara memformalkan gelar tersebut dan memugar makam Tan Malaka secara layak agar masyarakat dapat berziarah dan mengenang jasanya.

Menuju Pengakuan yang Lebih Luas

Airlangga Pribadi Kusman, dosen ilmu politik Universitas Airlangga, menilai Menuju Republik Indonesia sebagai karya monumental dalam sejarah pergerakan nasional. Ia menyebut risalah itu sebagai karya pertama yang merumuskan strategi perjuangan revolusioner menuju kemerdekaan secara komprehensif—mulai dari analisis struktural global, kekuatan sosial yang terlibat, hingga program konkret bagi Republik Indonesia.

Airlangga menambahkan bahwa Tan Malaka menulis risalah tersebut saat berada di Kanton, pusat aktivitas pergerakan bawah tanah Asia. Pengalamannya berdialog dengan tokoh besar seperti Sun Yat Sen dan Ho Chi Minh turut mewarnai refleksinya. Tidak heran bila pemikiran Tan Malaka menjadi bahan rujukan Sukarno dan Hatta dalam membangun pemahaman politik nasional.

Dengan gaya bercanda, Airlangga menyebut bahwa para pemimpin nasional kala itu mengalami “FOMO” bila belum membaca karya Tan Malaka, saking besarnya pengaruh risalah tersebut.

Kesimpulan

Pemikiran Tan Malaka tentang Republik Indonesia telah lahir jauh sebelum momentum 1945, menjadikannya tokoh penting dalam fondasi intelektual Republik. Dengan semakin kuatnya dorongan akademisi dan sejarawan, usulan untuk mengukuhkan Tan Malaka sebagai Bapak Republik Indonesia semakin relevan untuk di wujudkan sebagai bentuk penghormatan negara terhadap warisan pemikirannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *